Puisi #3: Rumah Tanpa Suara
“Rumah Tanpa Suara” Dia mengetuk pelan pintumu Tetapi jangankan beranjak, menyaut pun tidak Dari dalam sana kamu hanya bisa meringis tanpa suara mengobati luka Memulihkan lebam biru di sekujur tubuhmu Jadi dia menunggumu di depan pintu, seraya menyesap kopi panas yang asapnya masih mengepul Kamu merawat luka, ingin keluar tapi tak bisa Sekali lagi dia menyerukan namamu, kamu bilang tunggu Dia menggedor pintumu, kamu terdiam kaku Ingin hatimu menjelaskan kondisimu yang pilu Ingin kamu katakan kepadanya bahwa kamu sangat paham posisinya Terulang beberapa kali, mengetuk, menyeru, menggedor pintu Hingga engsel besi yang kuat itu nampak bosan melihatnya menunggu Tapi lagi-lagi kamu terdiam kaku, menyimpan rapat rindu Dia bukan orang yang tepat untuk mengobati lukamu, pikirmu lagi jika wajahnya muncul di pintu Dia sedang mencoba berkawan tanpa tendensi Kamu sedang kebingungan menentukan sikap Sesekali mengumpat pelan tentang infeksi luka kemarin yang sendu ...