Puisi #3: Rumah Tanpa Suara

“Rumah Tanpa Suara”

Dia mengetuk pelan pintumu

Tetapi jangankan beranjak, menyaut pun tidak

Dari dalam sana kamu hanya bisa meringis tanpa suara mengobati luka

Memulihkan lebam biru di sekujur tubuhmu

Jadi dia menunggumu di depan pintu, seraya menyesap kopi panas yang asapnya masih mengepul

Kamu merawat luka, ingin keluar tapi tak bisa

Sekali lagi dia menyerukan namamu, kamu bilang tunggu

Dia menggedor pintumu, kamu terdiam kaku

Ingin hatimu menjelaskan kondisimu yang pilu

Ingin kamu katakan kepadanya bahwa kamu sangat paham posisinya

Terulang beberapa kali, mengetuk, menyeru, menggedor pintu

Hingga engsel besi yang kuat itu nampak bosan melihatnya menunggu

Tapi lagi-lagi kamu terdiam kaku, menyimpan rapat rindu

Dia bukan orang yang tepat untuk mengobati lukamu, pikirmu lagi jika wajahnya muncul di pintu

Dia sedang mencoba berkawan tanpa tendensi

Kamu sedang kebingungan menentukan sikap

Sesekali mengumpat pelan tentang infeksi luka kemarin yang sendu

Yang dia pahami kamu ingin menghindari

Yang kamu pahami dia mencoba meniti

Lantas ketika dia sudah cukup letih menunggu, dia beranjak

Ia menengok sekali lagi ke pintu ringkih dengan engsel besi yang kehilangan penantian

Ia sedang menorehkan kepahitan

Kamu masih merawat luka dan lebam yang tak kau izinkan sembuh itu

Hendak kau tunjukkan kepadanya luka basah dan sebagian kering yang kau rawat dengan sia-sia

Ketika engsel itu berubah posisinya, dia sudah berada di titik terjauh yang bisa kamu gapai

Kamu tersenyum sedih dan kembali menciptakan luka baru yang segar

Berbalik ke belakang dan mengambil kasa kering dan alkohol

Menanti-nanti siapa lagi yang akan mampir mengetuk dan menunggu sambil menyesap kopinya

Lantas kamu tenggelam untuk kesekian kalinya dalam rumah tanpa suara

Sekali lagi mengumpat dengan luka luka sialan dan keterpurukan artifisial gilamu

***

 I have no idea what is this, but I wrote this by imagine a beautiful moron girl at her privilege house, scolding and blaming the world for her damn insanities she create. 

One thing I hate the most about myself is keeping myself realm into my imaginary land in my brainfield. I don't care, I need to write something here cause Imma stressed out right here and this platform is getting grumpy.

Komentar

Populer

echoes of warmth

Drama Mahasiswi Tua

Puisi #1: Dalam Ruang Paradoks