Drama Mahasiswi Tua
Halo, lama banget nggak nulis lagi. Sejujurnya aku hampir aja kehilangan diriku yang itu. Tapi untungnya nulis bagi aku bukan sekedar keinginan dan hobby, tapi juga kebutuhan, ya at least nulis diary. Meskipun gak selalu tulis di sini. Sekarang aku lagi gabut ngelab nunggu kering fraksi buat ditimbang. Habis liat blog lama dan tiba-tiba pengen laporan kemajuan kehidupanku.
2020 silam pertama kali blog ini dibuat. 2014 pertama kali aku buat tulisan di blog. Waktu cepat sekali berlalu. Sayangnya kepala duaku berjalan seperti siput. Lambat sekali progress-nya layaknya ujian hidup yang aku hadapi sekarang.
Your majesty: tugas akhir
Sebagai mahasiswa tukang bikin skripsi yang lagi gundah. Serius deh, tahun ini jadi salah satu tahun terberat yang pernah aku hadapi.
Sampai bingung cerita sedih mana yang harus aku sampaikan.
Radar kegundahan itu terdeteksi sekitar bulan April saat dosen pembimbingku menyadarkan aku tentang tugas akhirku yang gonjang-ganjing.
Mau tau apa penyebabnya?
Aku sibuk mencari nafkah. Kalo kata dosen pembimbingku, "begitu tahu cara mencari uang, itu aja terus yang akan dikerjakan,"
dan itu terjadi ke diriku. Dilemaku adalah saat aku harus berhenti mencari uang dari ngajar anak olimpiade, anak SMA, anak yang mau UTBK, anak yang butuh pelajaran soal matkul yang berbau kimia. Pokoknya yang bisa menghasilkan cuan aku coba kerjakan. Keluargaku ada di masa-masa sulit berfoya-foya, dan pantat borosku tidak tahu diri maunya jajan sana-jajan sini, beliin itu-beliin ini. Gengsiku yang setinggi Everest ini gak sudi minta uang ke orangtuaku yang bikin aku lenggang sana-sini cari uang sendiri. Sok-sokan jajanin adik-adikku karena orangtuaku tipe yang mengajarkan kami untuk berusaha setengah mati sebelum mendapatkan yang diingini sedangkan adik-adikku belum bisa leluasa bekerja seperti aku sekarang. Sejujurnya aku gak leluasa juga, sih. Tapi memaksakan diri agar leluasa bekerja dan menyingkirkan prioritas utamaku menyelesaikan tugas akhir. Habisnya gimana, ya. Anak pertama keluarga yang dari kecil susah banget diturutin inginnya ini pengen manjain adik kecilnya, eak. (((menjadi kakak yang baik adalah koentji)))
Tapi serius deh, lelah bekerja yang keringatnya aku tukar dengan perabotan di rumah, pulsa adikku, jajanin adikku, itu rasanya nyenengin banget. Kayak, "ah, mereka tidak lagi merasakan penderitaanku," (((lebay)))
Jajanin mereka juga meyakinkan orangtuaku bahwa aku hidup dengan baik dan berkecukupan meskipun pada kenyataannya ya nggak selalu. (((manusia yang cuma hidup baik pas hari pertama gajian 😆)))
Ayahku sampai protes halus kemarin silam mampir ke rumah Omku di Gegerkalong.
"Kakak tu apa-apa maunya Daffa diturutin,"
Daffa itu adikku paling kecil. Tapi aku malah bangga disindir kayak gitu. Minusnya adikku jadi nggak belajar kerja keras dan reward setelah berusaha dari aku, tapi gapapa, dia udah belajar itu dari orangtuaku, yang penting aku kakak yang dermawan 😗.
Beruntunglah aku punya teman yang menjadi tombol daruratku sampai (kayaknya) sudi menginvestasikan sebagian hartanya kepada hamba tukang jajan batagor ini. (credits to: Intan, Polon, El, Roy etc, you're the best guys I owe u everything 😘)
Banyak alasan yang bikin aku tetap harus ngajar. Menghidupi aku sendiri, jajanin adik-adikku, bayar kos, ringanin beban berat orangtuaku, tanggung jawab mengemban ilmu, nikah😚😚😚... Tapi boong, mau berkarir dulu lah ya.
Intinya sekarang mau gak mau aku di ujung jurang yang kalau jatuh bisa jadi mahasiswa sepuh di kampus dengan titel tidak bertanggung jawab dengan tugas akhir karena sibuk mencari cuan. Bisikan "resign" udah bikin telingaku gatal atas kejaran TA ini. Aku bukan sama sekali nggak ngerjain juga sih, cuma kurang diprioritaskan aja. Ya beres juga, tapi nggak perfecto numero uno sampai bisa disetujui dosen pembimbingku. Aku mulai berpikir apakah orangtuaku kecewa nantinya dengan aku yang menunda-nunda, sampai kemudian Tuhan langsung mengirimkan jawaban saat ayahku datang kemarin. Katanya begini:
"Papa bukan mau memaksa Kakak untuk cepat lulus, tapi pasti di hati kecil Kakak dengan pelarian ngajar itu bakal bikin jadi gak baik buat mental kakak sendiri. Kalau untuk keuangan tenang aja, yang penting Kakak selesaikan studinya biar tenang, setelahnya terserah," begitu kira-kira redaksinya.
Saat itu aku mau menangis, terharu dan tidak menyangka, tapi ga jadi karena kelaparan dan kedinginan abis ujan😭. (((mamam nomor 1, tugas akhir kemudian😚, g denk, peace Papski))).
Intinya apa yang dikatakan ayahku malam itu jadi pecut untuk aku tetap waras mengerjakan TA. Sampai kemudian kewarasannya hilang dan pudar setelah dichat dosen pembimbing untuk menyelesaikan draftku... Gak deng. Bismillah dengan semangat baru aku mau mengurangi aktivitas dan menyerahkan semua ke Tuhan tentang keuangan.
Tahap selanjutnya, mendapatkan kepercayaan dosenku bahwa aku layak dan masih sanggup mengejar wisuda Oktober (((aamiin🥺))).
Mulai dari meyakinkan diriku bahwa kegagalan kemarin jadi jatah gagal yang berkurang, sehingga aku bisa terus melanjutkan penelitian. Sudah sejauh ini, aku udah keren kok. Cuma aku doang yang kerjanya borongan, docking, isolasi, transformasi. Ya wajar berat. Tuhan menghadirkan ujian ini karena tahu aku sanggup dan harus terus meletakkan hal itu di pikiranku sendiri. Mungkin aku perlu baca tulisan ini lagi kalau sejam lagi aku demotivasi. Seperti rutinitas ygy. Harus percaya diri, percaya Tuhan, percaya semuanya akan selesai pada waktunya.
Terima kasih untuk aku yang sudah bertahan, bahkan sanggup menulis kesulitan yang saban hari aku tangisi, dibubuhi dengan rasa geli sendiri. Kewarasanku mulai agak menurun, kan, ya.
Caiyo, bestie, you always can do it, may God strengthen you. 🧡🧡🧡
Komentar
Posting Komentar