they're just like me.....

 

“The older I get the more that I see
My parents aren't heroes, they're just like me
And loving is hard, it don't always work
You just try your best not to get hurt”

Banyak hal-hal yang baru bisa aku pahami setelah beranjak dewasa. Termasuk tentang meyadari ayah dan ibuku bukan orang dewasa paling sempurna di hidupku hanya karena mereka orang dewasa pertama yang aku kenal. Mereka mungkin aja orang paling bisa menerima aku, baik dan buruknya. Orang yang mungkin aja nggak akan pernah ninggalin aku seberapa besar aku bikin mereka marah dan kecewa. Orang yang nggak akan pernah tega untuk ninggalin aku sendirian tanpa arah. Orang yang nggak akan pernah biarin aku berjalan salah arah.

Satu dekade belakangan aku sadar kalau mereka melakukan berbagai keputusan yang sangat banyak sebagai orangtua bagi aku dan adik-adikku. Keputusan yang mengecewakan membutakan mataku bahwa mereka adalah manusia biasa yang nggak luput dari kesalahan. Hanya karena aku selalu bergantung kepada mereka, lantas salah sedikit aku sudah kecewa berlebihan.

Belakangan aku sebenarnya baru sadar, bahwa mereka memberikan keputusan terbaik yang bisa mereka lakukan untuk kami, tapi kadang tidak selalu berhasil. Dan meskipun begitu mereka sudah melakukan yang terbaik. Sama aja kayak aku yang selalu melakukan yang terbaik tapi kadang nggak selalu berhasil buat mereka bangga. Masing-masing ngelakuin hal-hal sesuai porsi, tapi outputnya nggak selalu sesuai ekspektasi. Aku pernah nggak bisa menerima itu dan itu adalah tahun-tahun terberat aku selama bersama mereka sejak aku dilahirkan.

Rasa cinta ke mereka nggak selalu bisa bikin aku baik-baik aja. Kecewa pasti ada, tapi setidaknya rasa cinta itu bikin aku selalu bisa berpikir jernih dan nggak terlalu tenggelam dalam rasa kecewa. Pikiranku nggak capek-capek ngingetin, bahwa sama kayak aku yang merupakan hadiah bagi mereka, mereka juga hadiah bagi aku. Sesuatu yang nggak bisa tergantikan emang nggak bisa diapa-apakan selain diterima dan disyukuri.

“I swore I'd never be like them
But I was just a kid back then”

Aku nggak akan menjadi seperti mereka untuk sesuatu yang aku anggap membuatku kecewa. Tapi itu tidak akan mengurangi kehormatanku, rasa sayangku, dan kehangatan mereka bagi aku. Dari dulu sampai sekarang, aku masih anak kecil manja yang terlalu sering trauma. I am always being that kid afterwards.

Aku harus cukup dengan menerima rasa sedihnya untuk aku simpan sendiri, tapi tetap mawas diri untuk nggak ngelakuin hal yang sama kayak mereka nantinya. Meskipun aku tau secara jelas bahwa menjadi yang ideal bukan sekedar sulit, tapi mustahil. Tapi kembali lagi, aku melakukan yang terbaik sekemampuanku dan menyingkirikan sejenak pesimisme itu. Sadar bahwa keidealan adalah kemustahilan, tapi tidak akan membuatku berhenti berharap bahwa penerimaan kala nanti adalah keniscayaan.

Komentar

Populer

echoes of warmth

Drama Mahasiswi Tua

Puisi #1: Dalam Ruang Paradoks