Berhenti

Sebuah catatan ingatan tentang masa-masa terkelam hidupku:

Membagi kerapuhan tidak membuatku semakin tak berdaya ataupun semakin kuat. Setidaknya tulisan ini membantuku belajar menghadapi kisah gelapku terdahulu. Merangkul kembali bagian dari diriku yang tidak pernah kusukai keberadaannya. Sebuah pikiran kusut di tengah kemelut yang coba kuterima.

Ini bagian dariku yang tak bisa kuterima. Waktu ketika aku berhenti. Berhenti dari pengharapan dan keputusasaan karena hati yang mati. 

Memo Depresi

Mei 2018

Aku berhenti melakukan apa yang aku sukai. Aku berhenti menulis novel dan cerita pendek. Aku berhenti menulis puisi. Aku berhenti menggambar. Aku berhenti menyanyi. Aku berhenti berkomunikasi dengan orang yang kusukai. Aku berhenti berpura-pura tidak canggung dengan orang yang menyukaiku. Aku kehilangan kesenangan untuk sesuatu yang dulu membuatku bersenang-senang. Aku berpikir tentang kematian lebih sering dari biasanya. Bukan soal ketakutan akan waktunya datang. Tapi tentang betapa aku menginginkan hari itu menghentikan aku dari jalan kehidupan. Aku mulai berhenti menyalahkan orang lain atas beberapa kemalangan dan mulai mengutuk diriku sendiri. Aku tidak lagi merasa pantas berdiri. Tidak tahu lagi apa yang harus diberi ketika hidupku sekedar satu digit terakhir dari populasi. Aku bahkan mulai tidak merasakan kelegaan dengan menulis semua ini. Kurasa ini sebuah kesadaran, bahwa semua hal nampak tidak berdampak apapun bagi kehidupanku yang sudah usang dan tak berharga. Aku ingin pergi jauh. Jika tidak bisa memulai yang baru, aku ingin mengakhiri hari ini. Kepalaku tidak berhenti memikirkan cara mengiris putus nadi kehidupanku setiap melihat pisau dapur itu. Aku mulai lelah berpura-pura tertawa melihat acara TV komedi yang diputar tiap malam. Tidak lagi kutemukan keinginan lain karena yang selalu kuinginkan terlalu tidak tergapai. Aku mulai berhenti percaya dengan keberadaan sesuatu yang disebut umat manusia sebagai si pencipta. Aku bahkan tidak capek-capek lagi memikirkan keyakinanku sekarang ini. Aku tidak peduli disebut apa pikiran tidak peduli terhadap sebuah bentuk kepercayaan akan substansi seperti itu. Aku berhenti percaya dengan pencarian kebenaran. Bahkan walaupun kutemukan, buat apa? Itu bukan sesuatu yang kuinginkan dan ingin kubuktikan. Aku hanya ingin menjadi ruang hampa. 

Sudah terlalu malu, terlalu sedih, terlalu kecewa, terlalu putus asa untuk melanjutkan. Tawa-tawa kecil dalam rumah tidak lagi membuatku terus berkeinginan untuk melanjutkan kehidupan. Bentuk emosi manis dan pahit dari orang lain kurang cukup memberi warna untuk bisa kulanjutkan sebagai gambaran kehidupan. Aku sudah capek bekerja keras. Aku juga capek berpangku tangan. Aku tidak lagi memiliki alasan bertahan. Aku hanya ingin hilang bahkan meskipun satu-satunya jalan adalah dengan menjemput kematian.

Tapi aku merasa hanya satu dari miliaran orang yang kebingungan. Mungkin beberapa orang melihatnya sebagai manusia tak bersyukur dengan kehidupan. Tapi serius, jika kehidupan ini bisa kuberikan kepada yang lebih menginginkan, aku mungkin bisa merasa lebih baik. Setidaknya itu hal terakhir yang bisa kulakukan untuk membuatku merasa dibutuhkan. Sayangnya itu tidak bisa. Orang yang sekarat tidak bisa menikmati kehidupan yang tak bisa kusyukuri. Jadi mau bagaimana lagi. Tidak ada yang bisa mencegah pikiran ini muncul di kepala orang yang tak tau arti bersyukur seperti aku. Aku ingin berhenti.

***

Aku tidak sadar kapan Tuhan berbaik hati meniupkan kehitaman dari hatiku. Dia tidak memberiku takdir manis dan indah. Dia hanya menghilangkan getir dan putus asa. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk buatku tetap hidup hingga hari ini.

Memo depresi ini membuatku sadar aku lebih lemah dari apa yang dipikirkan olehku dan orang lain tentang diriku sendiri. Melewati fase itu membuatku sadar selalu ada orang di luar sana yang kehilangan harapan secara tidak logis. Bukan karena tidak lagi ada sesuatu motivasi potensial bagi dia untuk bertahan, tapi karena dia memilih buta untuk melihat sekeliling. Aku tidak bisa menjustifikasi orang-orang seperti diriku hari itu. Membuatku memikirkan orang lain lebih dari aku memikirkan diriku ternyata membuatku sembuh dari luka itu. Menahan sedikit lebih lama adalah langkah pertama yang kulakukan sampai aku menemukan lagi sebuah alasan yang sudi membuatku bertahan. Belajar memperlakukan setiap orang seperti tak berdaya selayaknya aku terdahulu membuatku nampak selalu panik dan khawatir berlebihan. Tidak apa. Memang begitu keadaan sebenarnya. Aku juga belajar untuk tidak memusingkan kata mereka tentang hal-hal yang tidak bisa mereka pahami tentang aku. Aku hanya sedang menjaga diriku untuk tidak jatuh ke lubang yang sama dengan memperlakukan orang lain seperti mereka sedang jatuh ke lubang itu. 

Kita gak pernah tahu hal buruk apa yang menimpa orang lain dan kemalangan apa yang harus dihadapi mereka. Tapi kita juga gak perlu tahu itu semua untuk tetap berbuat baik dan membagi empati. 

"Treat people like they are dyeing,"-Ryan Higa

Komentar

Populer

echoes of warmth

Drama Mahasiswi Tua

Puisi #1: Dalam Ruang Paradoks