"Jangan sentuh! Nanti marah."
Dari aku kecil ayahku selalu bilang, "Jangan sampe disentuh sama laki-laki, ya! Bukan mahram." Ucapan itu selalu terngiang setiap aku bergaul sama lawan jenis kemudian menjadi prinsipku. Ditambah dengan trauma masa kecilku dengan kaum lelaki, ucapan itu seperti sakral bagiku.
Seluruh kelas tahu aku paling anti sama lelaki. "Jangan pegang Qolbu, nanti dia marah," katanya mereka. Bahkan walaupun gak sengaja bersentuhan, aku pasti langsung bersikap defensif dan menjauh secara otomatis. Mereka paham. Meskipun ada juga anak iseng yang penasaran sama aku karena gak pernah mau dekat-dekat. Tapi ya sekedar meledek aja, gak pernah berani menyentuh, karena kalo tersentuh dan mereka sengaja ngelakuin itu, aku pasti langsung jadi liar dan berpindah jadi mode ofensif. Kupukul pakai sapu pernah. Buku pernah. Lemparin penghapus juga pernah. Habis itu menangis.
Aku yang dari kecil susah bergaul juga, akhirnya cuma punya sedikit sahabat yang semuanya perempuan. Sampai pernah suatu kejadian di SMP seorang lelaki kemayu suka sekali menggodaku. Dia satu-satunya laki-laki yang kutolerir untuk mengobrol banyak denganku. Ya itu pun juga karena dia memang lebih banyak bergaul dengan perempuan dan teman-teman dekatku semuanya menganggap dia seperti perempuan. Jadinya aku keikutan berteman sama dia. Kalau laki-laki lain, jangan tanya. Jangankan dekat, ngobrol aja super jarang kalau gak perlu-perlu banget.
Suatu hari lelaki kemayu ini bertanya, "Kenapa sih kamu gak boleh disentuh sama cowok?" Tanyanya.
Aku jawab, "Bukan mahram,"
"Kalo aku yang pegang gak boleh juga?" Tanyanya lagi.
Aku diam. Saat itu aku yang belum paham masih berpikir. "Dia cowok sih, tapi kan sikapnya kayak cewek, temenannya juga sama cewek, apa gak boleh juga?" Pikirku saat itu. Akhirnya aku mencoba bertanya ke ayahku, kata beliau, "Tetap gak boleh. Dia tetap laki-laki meskipun sikapnya bukan laki-laki,"
Kemudian aku menjaga jarak lagi sama dia. Tapi dia orangnya usil. Sering sekali berusaha menyentuh aku. Dicolek dagunya. Dipegang lengannya. Dicubit. Semakin aku menghindar semakin dia iseng. Bahkan meskipun aku terlihat marah dan ingin menangis, dia tidak peduli. Bagi dia prinsip itu hanyalah candaan. Ya di lingkungan sekitarku juga gak ada yang prinsip mahramnya seperti aku, sih. Makanya bagi mereka tidak boleh menyentuh sama sekali dengan lawan jenis itu aneh. Makanya aku juga dianggap berbeda.
Nah, selanjutnya kebiasaan di rumahku itu selalu ada quality time sama keluarga tiap makan malam. Meskipun di luar aku pendiam, tapi begitu di rumah aku cerewet bukan main. Aku pasti menceritakan apa saja kegiatan yang aku lakukan tanpa ditanya. Kemudian hari itu aku menyinggung soal si lelaki kemayu di meja makan. Ayahku bertanya siapa si lelaki kemayu yang berani pegang aku. Aku menjawab tanpa curiga.
Beberapa waktu kemudian wali kelasku menegur si lelaki kemayu di depan kelas. Beliau memperingatkan si lelaki kemayu untuk berhenti mengganggu aku. Seketika seluruh kelas memberi perhatian ke aku dan si lelaki kemayu. Aku sama kagetnya dengan mereka. Aku tidak pernah melapor ke siapapun soal itu. Selanjutnya saat di rumah aku bertanya pada ayahku, dan memang benar, semuanya karena ayahku yang meminta tolong wali kelasku untuk menjauhkan aku dengan si lelaki kemayu. Ini bukan pertama kali ayahku bertindak seperti ini. Meskipun tidak heran dengan apa yang ayahku lakukan, tetap saja aku marah.
Orang-orang sekarang menganggapku si tukang lapor. Anak lelaki iseng sudah tidak ada lagi yang berani mendekat. Bahkan untuk mengobrol denganku mereka was-was. Takut aku melapor. Imageku berubah dan aku menjadi semakin tidak tersentuh. Kemudian begitu ada seorang lelaki yang mendekatiku tanpa peduli dengan rumor itu, akunya langsung suka deh sama dia. Dan rasa sukanya bertahan bertahun-tahun lamanya sampai aku masuk kuliah. Omongan orang lain tentang aku yang melapor si lelaki kemayu pada wali kelas benar-benar membuatku berpikir lagi. Bukan ini yang aku inginkan. Bukan rasa pengucilan. Kenapa mereka tidak bersikap biasa tapi tetap menghormati prinsipku seperti dulu.
Begitu masuk SMA aku masuk ke lingkungan kondusif untuk prinsipku yang memberlakukan aturan 3 meter dari lawan jenis. Di sisi lain saat SMA aku juga pertama kali belajar bergaul dengan lawan jenis. Meskipun aturan 3 meter itu ada, karena angkatanku solid baik lelaki maupun perempuan, aku juga mulai belajar buat bicara dengan lelaki. Nampaknya mungkin biasa saja. Tapi aku mati-matian berusaha berpikir, "aku bukan bicara dengan laki-laki, aku sedang bicara dengan temanku," sampai akhirnya mulai terbiasa mengobrol tanpa beban. Mulai bisa menemukan teman ngobrol dari lawan jenis yang bukan lelaki kemayu. Aku merasa berada di tempat yang tepat. Semakin jauh interaksi fisikku dengan lelaki, tetapi secara emosional, aku mulai bisa menerima mereka sebagai teman. Bahkan beberapa ada yang menjadi teman dekat. Yang dulu gak boleh menyentuh, pas masuk SMA ditambah menjauh sih.
Begitu lulus aku jadi kaget sendiri. Dekat sedikit langsung otomatis tersentak kemudian menjauh. Sampai-sampai aku bisa melihat dari mata mereka kalau mereka jadi kelihatan gak enak dan ikut menjauh juga. Beberapa orang mungkin mengerti aku adalah sebagian orang yang enggan didekati lawan jenis. Tapi kuliah adalah tempat di mana aku bisa banyak menemukan hal yang beda dan gak selalu sejalan. Kadang aku gelisah kalau harus terus berinteraksi dengan lawan jenis. Deg-degan, keringat dingin, gugup, takut. Kadang juga aku takut memikirkan apa yang mereka pikirkan tentang aku. Berharap mereka tidak menganggapku sombong meskipun tanganku enggan berjabat dengan mereka. Atau bahu ini melengos begitu berada beberapa sentimeter dari mereka. Kadang beberapa orang langsung meraih tanganku yang membuatku refleks menyingkirkan tangan mereka, setelah itu menyesalinya kemudian karena mimik tersinggung mereka. Akhirnya lama kelamaan aku mulai terbiasa. Tidak lagi kaget. Meskipun tetap kaget, sekarang aku belajar untuk berekspresi netral. Sadar sendiri interaksi lawan jenis selalu diperlukan. Selalu ada hal penting untuk dibicarakan dengan mereka dan aku gak mungkin harus selalu berada tiga meter jauhnya dari mereka. Berjauhan itu makan tempat, rentan miskomunikasi. Perlu lebih dekat lagi. Kemudian setelah terbiasa berdekatan aku mulai sadar aku bukan lagi anak SMP kemarin sore.
Batasan perlu. Tapi kurasa tahu batas dalam memberi batasan juga sama pentingnya.
Komentar
Posting Komentar