Impersonating Best Mother Ever
- Waktu aku tanya Umi pengen aku jadi apa:
“Kalo Umi, terserah kakak mau jadi apa, yang penting Kakak bahagia.”
- Waktu aku ngambek karena disuruh Papa pulang pas baru sampai di rumah temanku:
“Sampai kapanpun, setua apapun anaknya, orangtua akan terus khawatir.”
“Umi juga dulu lebih dikekang sama Oma daripada Kakak.”
- Waktu aku kesal karena merasa terlalu dikekang sama Papa:
“Itu memang cara Papa bertanggung jawab. Gimana kalau begini terus ada apa-apa di sana?”
- Setiap aku bilang Umi cantik banget
“Iyo no. Umi memang cantik.”
- Setiap disuruh cicip makanan:
“Kurang asin gak?”
- Nyaris setiap pukul 8 pagi:
“Kakak jangan lupa nyapu halaman dan jemur baju neh.”
- Setiap aku buat keputusan yang kurang Umi setujui:
“Coba kakak pertimbangkan lagi,” terus dilanjut, “Kalo menurut Umi, sih…(insert opinion)…”
- Kalimat wajib setiap pagi-siang-sore-malam:
“Kakak so makan?” kalau sudah gak ngomong apa-apa lagi, kalau belum, “makan sana jangan tunda-tunda,” sambil ngomel panjang lebar tentang kesehatanku.
- Waktu marah karena aku bilang gak mood makan:
“Kakak ini sudah besar gak disiplin. Perkara makan aja sering lupa. Gimana bisa mandiri kalau makan aja gak bisa diatur.”
- Setiap aku kelihatan gelisah:
“Kenapa? Harus cerita kalo ada apa-apa biar lega.”
- Setiap aku gak mau cerita masalahku walaupun udah ditanyain:
“….” Sambal ngeliatin intens terus sampai aku jadi mau cerita. Kadang tetap gak cerita sih.
- Waktu aku lupa melakukan pekerjaan yang disuruh:
“Umi yang so …(insert pekerjaan yang disuruh).” Contoh: “Umi yang so cuci piring.”
- Kalau aku gak keluar-keluar kamar:
*masuk ke kamar* “….” *keluar lagi*
- Waktu aku gak bisa ke kolam renang hari Rabu karena ada kuliah:
“Gimana kalo bolos sehari aja?” *sambal naik-naikin alis*
- Setiap aku curhat tentang orang yang menyatakan perasaan suka ke aku:
“Gak papa. Biarin aja. Bersikap biasa, gak usah jauhin. Tetap baik-baik walaupun gak suka. Jodoh gak ada yang tahu.”
- Waktu aku cerita orang yang bikin aku sedih:
“Udah gak papa, dia memang begitu. Yang penting kakak gak usah pikirin.”
- Waktu aku tanya apa aku cantik atau enggak.
“Ya cantik lah. Uminya aja cantik.”
- Waktu aku cerita ada orang yang kusukai tapi aku merasa gak suka dengan perasaan suka itu.
“Jangan terlalu keras mikirin hal yang belum terjadi, jalani aja apa adanya. Dekat gak papa, yang penting tahu batasan. Jaga hatinya masing-masing kalau saling suka, tapi yang penting jangan kecewa kalau di masa depan bukan jodohnya.”
- Waktu aku bilang gak ingin menikah:
“Jangan begitu. Akan tetap ada waktunya itu Kakak pasti akan menikah.”
- Waktu aku tanya gimana kalau aku meninggal:
“Umi juga kadang suka kepikiran gimana kalau Umi meninggal apa amal yang dibawa nanti cukup atau engga. Tapi mending jangan mikir begitu, jalanin hari ini. Gak usah berat-berat berpikirnya.”
- Waktu umi gak masak pagi:
“Kakak goreng tempe neh.”
- Waktu Daffa merasa lapar tiba-tiba tapi gak ada makanan/lauknya pedas:
“Kakak bisa goreng telur buat Daffa?”
- Waktu aku marah sama Papa tentang banyak hal:
“Sudah jo. Gak papa…. (insert kalimat permakluman)…”
- Waktu aku diam ngelamun di meja makan:
“Kakak itu mirip Papa. Apa-apa selalu dibawa beban pikiran.”
- Setiap aku ngelamun habis sholat dan bukannya dzikir:
“Heh! Mikirin apa Kakak ini,”
- Setiap aku mengeluh tentang apapun:
“Umi tahu kakak maunya begitu, umi juga maunya begitu, tapi… (insert kalimat permakluman)…”
Gonna stop right here cause my drowning tears won’t disappear if I keep writing :”
Adding this content for the next yearning
Komentar
Posting Komentar