Minyak Kemiri

 Judulnya bukan minyak kemiri. Setelah baca simpulin aja sendiri. Mungkin judulnya nanti akan direvisi. Habis bingung mau apa. Ya udah, tulis suka-suka aja.

Minggu pagi, kemiri, dan tisu basah.

Kalau pagi ini adalah abstrak karya ilmiah, udah pasti 3 kata itu jadi kata kunci yang tepat untuk pagi ini. Minggu pagi produktif yang kukira bakal mulus, lancar, aman, jaya dan sentosa diberi bumbu kemiri. Literally.

Pagi ini kegiatan terkontrol dan terjadwal seperti yang selalu aku pengen. Bangun pagi jam 4. Shubuh tepat waktu. Ibadah pagi gak ada yang kelewat. Gak ada tidur pagi habis shubuh. Aku langsung beberes kamar, menyapu kamar, menyapu koridor depan, mencuci, mandi, dan perawatan. Udah kebayang apa yang selanjutnya akan aku lakuin. Jam 8.30 ada kegiatan penuh sampai menjelang zhuhur, abis itu dilanjut liqo, janji lain, dan kegiatanku hari ini bakal penuh sampai isya, jadi sebelum hari yang panjang ini dimulai, aku harus sudah membuat rencana apa yang harus aku lakuin sebelum berkegiatan dan menyelesaikannya sebelum kegiatan itu mulai. Suasana syahdu, tenang, dan aman di bawah kontrol. Sama sekali gak dengan notifikasi ponsel atau pesan dari siapapun. Aku bersyukur memutuskan untuk mematikan seluruh notifikasi sosial media yang bikin aku benar-benar bisa mengontrol waktu untuk mengecek ponsel. Getar-getar ponsel gak bikin gempa bumi bagi kegiatan terjadwalku.

Aku ngerasa udah bisa mengontrol kegiatanku. Dari dulu aku emang selalu suka dan ngerasa tenang dengan sesuatu terencana. Under control. Gara-gara kegiatan seminar Annisaa Day kemarin juga semakin bikin aku ingin pintar atur waktu. Ada suatu kalimat yang terngiang dan membekas di kepalaku setelah hari jumat itu.

“Jangan mau dikendalikan kegiatan kita, jadwalkan. Berani tolak yang tidak sesuai dengan kita atau mengganggu waktu istirahat kita. Jangan bikin kegiatan kita yang malah mengontrol diri kita.”

Semakin bikin aku semangat mengatur jadwal harianku. Sekarang bahkan tiap detil kegiatan aku catat dengan teliti di google calendar. Seneng banget tahu aku bisa memastikan semuanya sesuai rencana. Sampai kemudian pagi tadi minyak kemiri bikin aku diberi suatu kesadaran. Sederhana banget, tapi dalam beberapa menit kontemplasi, aku udah merasa cukup ditampar.

Pagi tadi saat mau masuk ke kamar, pintunya kubuka dan ternyata ada papan jalan yang mengganjal di atas rak samping pintu. Bentuknya kurang lebih seperti ini saat kubuka.

Ada wadah toples kecil berisi wadah kemiri persis di atas papan jalan dan di sisi papan jalan yang lain ada cermin tergeletak berdekatan dengan toples minyak kemiri. Ilustrasinya begini:

Pintu yang kubuka artinya menggeser papan jalan dan bikin cermin, papan jalan, dan minyak kemirinya jatuh ke lantai.

Yang paling disayangkan adalah ternyata toples minyak kemirinya gak aku tutup dengan rapat setelah dipakai. Alhasil setengah isi toples tumpah dan ngotorin lantai. aku melihat nanar toples minyak kemiri yang baru aja aku beli sekarang tinggal setengah. Rasanya sayang banget gitu loh.

Cerminnya juga kelepas dari bingkainya. Untungnya gak pecah. Aku udah khawatir cerminnya pecah. Cerminnya juga baru, sih. Hehe. Semerbak bau minyak kemiri kecium seantero kamar dan koridor depan kamar. Tumpahan minyak menggenang di lantai. aku sampai was-was takut ada yang kepeleset di sana. Akhirnya aku langsung buru-buru mengambil tisu dan tisu basah buat bersihin minyak yang tumpah. Yang saat itu aku pikirin, aku harus gesit dan cepat-cepat ngebersihin. Aku pengen istirahat sebentar sebelum kegiatan dimulai.

Minyak di lantai yang bisa terselamatkan karena aku ambil pakai sendok dan sedikit demi sedikit dipindahin lagi dalam toples. Sayang tisu kalau harus dilap semuanya juga, mana bentar lagi tisu basahnya habis pula(gara-gara tiap ngepel kamar aku pakai tisu basah, sih). Kemudian dalam keheningan dan rasa sayang dengan minyak yang tumpah, aku lihat ke sekeliling tumpahan.

 

Minyaknya gak kena karpet. Padahal normalnya, tumpahan minyaknya  pasti bakal ngotorin karpet. Tapi kebetulan banget karpetnya habis aku lipat karena semalam sebelumnya aku numpahin air dalam gelas dan ternyata ngebasahin bawah karpetnya. Jadi paginya aku langsung lipatin karpetnya sedikit. Dan lipatannya tepat banget. Tumpahannya gak kena karpet sama sekali, cuma kecipratan sedikit aja. Aku bersyukur air minum kemarin tumpah, kalo enggak, mungkin aku juga harus bersihin karpet. Terus aku lihat ke cermin yang gak pecah. Aku bersyukur lagi. Tiba-tiba aku keingat kata-kata umiku.

“kalo ada kejadian gak menyenangkan, ya gak papa. Pasti nanti ketahuan juga hikmahnya. Kalau gak ketahuan, mungkin belum dicari.”

Iya, sepertinya tanpa aku sadari aku lagi mencari-cari hikmah begitu minyak itu tumpah. Ngilangin rasa kesal yang ada dan membawa kesyukuran dalam kemalangan yang terjadi itu rasanya tenang banget. Padahal waktu dinasehatin ibuku aku sebal sendiri saat itu. Pikirku yang Namanya kejadian gak menyenangkan ya gak menyenangkan aja. Gak ada yang bisa disyukuri dari sana. Bahkan aku astaghfirullah sendiri rasanya karena merasa ibuku terlalu positif. Eh sendirinya malah menemukan maknanya sendiri baru bisa paham nasehatnya. Alhamdulillah. Emang harus  begini cara kerjanya. Rasanya aku mulai mengikiskan ketidaksukaanku dengan toxic positivity (untuk kasus ini, ya).

Cara Tuhan bikin aku sadar dengan, “kalau aja aku gak begini, pasti…” itu menyenangkan. Emang bener banget, pikiran kita sendiri yang bikin semuanya kelihatan baik atau enggak.

Setelah itu aku pikirin lagi. Minyak kemiri tumpah itu sama sekali gak terjadwal dan tercatat dalam kalenderku. Tapi itu terjadi. Hikmah lain aku temukan. Aku mungkin mengontrol kegiatanku dan merasa berkuasa penuh sebelumnya, sampai kemudian Tuhan menyentilku. Dia mungkin sedang merasakan aku yang takabur sampai-sampai aku ditegur. Mau seterencana apapun aku pasti akan ada hal-hal di luar rencana yang lebih baik. Di atas rencana kita selalu ada rencana Tuhan. Percaya aja rencananya bawa akibat baik untuk mereka yang percaya. Yang paling penting  jangan berhenti buat percaya. Karena kalau kita berhenti percaya, nanti susah lagi buat merasakan kesyukuran dan melatih kesabaran. Konsep ketuhanan kan juga doktrin pengharapan, konsekuensi percaya ya berarti menyerahkan harap kita ke Tuhan. Emang gak mudah. Tapi jangan menyerah buat belajar. Sama aja dengan yang sekarang aku lakuin. Cara aku nulis hal-hal yang aku syukuri hari ini, somehow, bikin aku belajar bersyukur juga.

Aku tahu perasaan bagus ini gak akan bertahan lama. Siang nanti mungkin aku udah bisa sebel lagi sama hal sederhana. Tapi mumpung sekarang aku sedang menghargai hal sederhana, aku pengen buru-buru nulis ceritanya.

Bahkan setelah tragedi tadi aku langsung kepikiran buat nulis cerita ini sambil dengerin Twenty One Pilots dan ngemil martabak sisa semalam. Bukannya ini kebetulan juga? Sekarang jam 8.21 dan kegiatan aku mulai jam 8.30. Pas aku sudah di ujung tulisan ini.

Tuhan ternyata juga ngasih aku kejadian tadi supaya bisa pake waktu buat produktif nulis daripada main hape sambil nunggu acaranya. Kebetulan lagi? Rasanya akunya aja yang nyiptain ‘kebetulan’ buat menenangkan perasaan aku sendiri. Tapi kataku gak apa selama pikiran yang kita ciptain baik buat kita sendiri. Naif banget sih. Tapi yang penting gak bawa dampak buruk daripada terus-terusan mengutuk hal-hal yang udah terjadi. Ih seneng banget kalo lagi positif gini. Besok-besok mungkin aku bisa sangat demot dan down sampai lupa sabar dan syukur, jadi mumpung sekarang lagi moodnya, aku tulis dulu. Siapa tahu ada kebetulan di masa depan yang bikin aku buka draft ini terus jadi positif lagi.

Semoga kita semua selalu dilimpahkan kebaikan dan gak nyerah untuk terus evaluasi diri.

 

 

 

Komentar

Populer

echoes of warmth

Drama Mahasiswi Tua

Puisi #1: Dalam Ruang Paradoks