“Kita sama-sama lagi improving, jadi jangan insecure.”

Semalam aku merekomendasikan suatu aplikasi tes Bahasa Inggris yang juga direkomendasikan temanku yang lainnya. Sayangnya, aku mau coba tapi sepertinya aplikasi itu gak kompatibel di ponselku (apa karena aku download aplikasi gak jelas yak) jadinya aku malah merekomendasikan aplikasinya ke temanku padahal aku sendiri belum pakai. Cuma berdasarkan rekomendasi temenku aja deh. Akhirnya aku yang rekomendasi, tapi malah dia duluan ngambil tes dan skornya muncul duluan. Aku yang tadinya udah menyerah gak pakai aplikasi itu lagi, karena gak bisa dipake di hapeku seketika dapat pemantik. Dengan motivasi untuk improving skill Bahasa Inggris, pagi ba’da shubuh aku langsung pinjam hape teteh tetangga kos dan ambil tes saat itu juga.

Skorku keluar, belum terlalu bagus. Aku tahu. Belum ada perkembangan. Lalu aku menjadi super insecure sama pengetahuan Bahasa Inggrisku. Udah gitu aku sudah janji buat ngasih tahu skor aku ke temanku yang pertama merekomendasikan aplikasinya. Insecure-nya pasti double kill. Akhirnya dengan perasaan minder aku kirim skorku ke temanku. Sesuai janji.

Lalu setelah itu, aku tanya skornya temanku yang lain(yang aku suruh buat download juga), dia bilang, “Gak akan ngasih tahu, nanti diketawain,”. Seketika itu juga aku merasa relate dengan posisi dia. Akhirnya aku bilang ke dia, “Jangan insekyur!”. Hal yang sama yang sebenarnya juga sedang aku katakan untuk diri aku sendiri.

“Kita sama-sama lagi improving, jadi jangan insecure.”

Akhirnya dia mau ngasih tahu skornya hehe. Walaupun bagi aku sendiri gak penting untuk tahu skor dia, tapi semoga aja dengan dia membiarkan aku tahu skornya, bisa jadi trigger buat dia untuk mengirimkan aku skornya yang lebih baik di masa depan.

Kayak, “Si Qolbu tahu skor gua nih sekarang, selanjutnya gua kasih tahu lagi skornya, harus lebih baik dari yang ini,” (Gak juga sih, ini pikiran idealku aja, aslinya aku emang penasaran dengan skornya. Biasanya skor lebih tinggi dari aku bikin jiwa kompetitifku semakin membara)

Intinya gak ada yang memalukan dari belajar. Padahal udah belajar aja adalah sesuatu yang bagus. Gak semua orang bisa punya kesempatan dan kemauan yang sama. Termasuk hasrat untuk melakukan yang lebih baik setelah kita melakukan kesalahan. We are all learning. All the time. Jadi gak ada alasan untuk kita ngerasa insecure alias gak aman dengan kondisi kita yang lagi belajar. Apalagi untuk skor yang cuma buat ‘seru-seruan belajar’ aja. Rangkaian ujian di mana sebaiknya kita harus banyak gagal, supaya saat tes yang sebenarnya, kita cukup belajar.

Mungkin gak semua orang bisa merasa termotivasi dan bukannya minder ketika melihat ada yang lebih baik dari dirinya. Tapi kita semua perlu belajar untuk menjadikan kegagalan sebagai motivasi juga. Aku masih terus belajar untuk itu. Gak apa awalnya pasti merasa kurang nyaman. Aku juga membiarkan diriku dalam fase gak nyaman tersebut. Semata-mata memberi aku waktu untuk menyadari sendiri kalau rasa down itu akan bikin aku trauma dan berusaha supaya di masa depan aku gak merasakan down yang sama.

Aku jadi flashback sendiri, ketika pas SMP suka pasang status anonim di sebuah situs pakai Bahasa Inggris dan chatting dengan orang luar negeri pakai Bahasa inggris gado-gado ala google translate featuring intuisi. Grammar-ku dikoreksi habis-habisan dan walaupun malunya selangit, tanpa aku sadari saat itu aku sedang belajar dan gak lagi mengulang kesalahan yang sama. Selain itu sih ada untungnya juga pakai profil anonim, orang-orang jadi gak tahu siapa aku dan aku bebas sesalah-salahnya melakukan kesalahan.

Meskipun untuk kasus ini, kemampuan Bahasa Inggrisku masih sangat jauh dari yang aku harapkan, gak apa-apa. Aku terus belajar dan pasti akan selalu ada hal untuk dipelajari. Gak cuma dalam Bahasa Inggris aja, tapi segala hal. Bahkan meskipun kesalahan dan kegagalan itu ada di tes paling penting yang menentukan hidup kita, pasti deh, ada pelajaran yang diambil di sana.

Nulis blog ini juga belajar. Kadang aku menulis banyak hal dan berpikir ribuan kali (lebay!) untuk bisa diposting. Tapi kembali lagi. Gak ada yang terugikan dengan memposting opini. Jadi mari kita coba. Kalau di masa depan tulisanku malah membuat masalah bagi diriku dan aku menyadari hal itu, aku berharap aku bisa memberi diri aku kesempatan untuk menulis sesuatu lebih baik.

Iya sih, gak mau munafik juga. Untuk perkara ini, kesalahan yang beresiko menyinggung pihak tertentu bakal terus di highlight sama orang lain. Tapi ya udah lah ya. Namanya juga belajar. Orang lain mungkin belum tentu memaklumi fase pembelajaran. Tapi diri sendiri saja sudah cukup. Tinggal belajar buat tenang menghadapinya aja. Sadari aja bahwa kita di detik sekarang bukan kita yang berada di detik sebelumnya. Aku yang setelah membuat tulisan ini, bukan aku yang ada sebelum membuat tulisan ini.

Semoga kita semua selalu jadi pribadi yang lebih baik dibandingkan kemarin.

PS. Aplikasinya namanya, British Council EnglishScore. Cari tahu aja, pokoknya recommended

Komentar

Populer

echoes of warmth

Drama Mahasiswi Tua

Puisi #1: Dalam Ruang Paradoks