Menghadapi Pembullyan

Bully sekarang jadi momok banget. Orang kadang terjebak di situasi itu dan gak tahu gimana cara lari dari sana. Makanya cyber bullying itu sebenarnya belum seberapa menurutku. Jadi fokusku nulis ini untuk orang yang meghadapi pem-bully-an secara langsung.

I do believe that cyber bullying is a problem. But I think we should be focused on regular bullying that's done in person. Sorry not sorry, I think it's not a bullying when we can escape from it. 

Kayak contohnya kalau kita mengalami pem-bully-an di sekolah. Kita bakal terpaksa berada di sana sama pem-bully. Kita tetap harus sekolah dan dipaksa keadaan buat terus sama si pem-bully itu. Gak bisa kabur kemana-mana.

Nah, cyber bullying sendiri itu situasi yang dimana kalau kita mengalami, kita masih bisa kabur dari sana. Bisa block, unfriend, unfollow,  bahkan kita bisa hapus seluruh sosial media buat bisa seluruhnya kabur dari cyber bullying itu. Gak ada situasi yang memaksa sampai kita harus tetap ngalamin yang namanya cyber bullying. Beda kalau bully regular kayak di sekolah yang memaksa kita bakal ada disana dan harus hadapin pem-bully-an itu secara langsung.

Tapi kalau semisal kita milih buat tetap main sosmed, yang harus dilakuin ya hadapin cyber bullying yang terjadi. You're gonna have to learn how to deal with it. Tapi kalau gak kuat hadepinnya, ya mending gak usah main sosmed, kenal batas diri. Gak ada yang memaksa kamu harus ada di kondisi itu selain diri kamu sendiri.

Gak peduli seberapa banyak kampanye #StopBullying yang dilakuin orang-orang, atau cerita penuh empati tentang pem-bully-an yang dilakuin, bully terutama cyber bullying itu gak akan pernah hilang. Udah jadi kayak insting manusia buat melakukan tindakan yang dianggap superior sama dia dan jatuhin orang lain. It will never gonna stop.

Orang yang nge-bully gak akan berhenti bully meskipun dia lihat #StopBullying di timeline sosial medianya dia. Gak semua orang juga mudah ngerasa kasian sama kisah menyedihkan soal pem-bully-an terus dengan mudahnya berhenti ngelakuin pem-bully-an seumur hidupnya. Orang-orang itu beda-beda, sayangnya otak bully itu pasti selalu ada di antara populasi manusia yang ada. Buat orang yang dibully juga pasti bisa mikir kalo kampanye #StopBullying itu gak berarti apa-apa bagi mereka.

Daripada menyuruh orang yang mem-bully untuk stop melakukan pem-bully-an dengan segala kampanye #StopBullying, mendingan belajar gimana cara menghadapi pem-bully-an itu sama orang yang mengalami pem-bully-an.

Dan untuk semua orang yang mengalami pem-bully-an, kalau kamu mengalami itu sekarang dan kamu bisa bertahan buat hadepin semuanya, itu bakal bikin kamu jadi lebih kuat nantinya.

Sometimes it is desperation that makes you grow. So if you get bully, think differently, it's maybe the form desperation that gonna make you grow. Although, being bullied is not something you typically wanna proud of, but just deal with it. Not every person will grow by inspiration. 

First thing first, try to choose think in a different way. Kenapa sih orang bisa mem-bully kamu? Apakah karena benci sama kamu personally? Atau kamu cuma lelucon bagi dia? Atau mereka ingin bikin kamu kesal? Pikirkan apapun yang bisa mereka pikirkan. Just think about everything happens for a reason, so it is.

Just ask yourself, why you're being bullied? Why the bullies bully you? Find the reason. Ask yourself how to take away the reason so that they won't bully you anymore. Gimana supaya mereka gak punya alasan lagi untuk bully kamu. 

Kalau mereka pengen bikin kamu kesel, jangan kesel. Don't get mad. Don't retaliate. Tentu aja semuanya gak bisa disamaratain. Temuin sendiri solusi kamu gimana menghadapi pembully itu. Just figure out your own situation.

Aku sendiri ingat waktu masih SMP bisa dikatakan susah buat bergaul. Bisa dibilang cupu dan gak gaul sama sekali. Tiap hari yang dipikirin ya belajar aja. Masuk kelas khusus pula, yang temennya pasti dikit kalau gak mau coba kenal orang lain dari kelas reguler. Kebetulan aku juga lumayan berhasil dalam akademik dan disukai sama guru-guru. Sayangnya aku gak disukain sama beberapa orang. Orang-orang mungkin pada tahu aku karena sering disebutin namanya setiap pengumuman juara parallel. 

Suatu ketika ada dua orang perempuan dari kelas reguler mencari aku. Aku gak begitu kenal sama mereka, tapi salah seorang teman kelasku yang lumayan tenar dekat sama dia. Dua orang perempuan yang datang bawa buku. Tiba-tiba aja aku dimintain tolong buat bantu ngerjain PR mereka. Kebetulan karena aku kelas khusus, aku sudah lewat materi yang ditanyain. Aku bingung kenapa yang mereka tanyakan itu aku di saat mereka kenal teman lain di kelas itu.

Akhirnya aku bantu mereka dengan menjelaskan materi itu ke mereka. Semuanya seperti biasa, karena aku juga memang mengajarkan teman sekelasku yang lain. Besoknya temanku yang lain cerita di kelas reguler aku dikenal sombong. Diketahui kalau mereka yang datang ke kelasku yang menyebarkan rumor dan bilang kalau aku gak mau memberi tahu jawaban PR mereka. Aku memang menolak mengerjakan seluruh PR mereka, tapi aku berusaha membantu dengan mengajarkan cara menjawabnya kepada mereka. Aku gak tahu ternyata mereka menganggap itu sebagai bentuk kesombonganku.

Akhirnya, yang awalnya kehidupanku aman meskipun sedikit teman, tiba-tiba terganggu karena seketika dalam sehari aku memiliki banyak musuh dalam selimut. Aku tidak terbiasa dibenci.

Akhirnya aku berpura-pura gak peduli dengan cemoohan dan tatapan menghardik tiap aku ke kantin. Akhirnya aku jadi lebih jarang ke kantin setiap istirahat. Tertekan dengan fakta bahwa jeleknya aku di mata mereka. Bohong kalau bilang aku gak sedih dengan itu semua. Mungkin memang hanya pem-bully-an verbal. Untungnya. Mereka sepertinya gak berani mengganggu aku secara fisik dan terang-terangan. 

Aku memilih untuk belajar gak peduli. Karena semakin aku merasa terganggu, semakin mereka berhasil memengaruhi aku. Mungkin memang itu tujuan mereka dari awal. Aku mulai kembali fokus pada apa yang harus kulakukan dibanding mendengarkan mereka dan mulai berhenti menggunakan sosial media. Perlahan rumor itu menghilang. Orang yang kenal aku pada akhirnya lebih tahu bagaimana diriku dan sedikit banyak membantu aku dengan meluruskan pandangan buruk orang tentangku. Aku tidak begitu memperhatikan. Yang aku tahu, aku berusaha tidak terganggu dan tetap melakukan sesuatu yang aku anggap benar.

Tapi jika hal itu gak terjadi juga, mungkin aku gak akan pernah belajar kalau gak mungkin semua orang bisa menyukai kita. Jadi mau ada yang gak suka sama kamu itu gak apa-apa. Bukan masalah besar.

Dan untuk kalian yang mungkin bisa jadi mengalami hal yang lebih buruk dari aku, remember that you're not gonna be there forever, and when you survive from it, you'll get stronger. Another thing maybe, being bullied could be kind of blessing in disguise. Something that doesn't kill you, makes you stronger, isn't?

Komentar

Populer

echoes of warmth

Drama Mahasiswi Tua

Puisi #1: Dalam Ruang Paradoks