Tentang Kejujuran Di Balik Kecurangan
Disclaimer:
Tulisan ini awalnya dibuat untuk memenuhi tugas matkul agama semester tiga. Saat dicoba upload, di-takedown terus sama sosial media tempat aku upload ini. Sampai sekarang masih gak ngerti apa yang bikin tulisan ini di-banned. Sekarang mau aku share di sini aja.
"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan jalan menuju surga.’’ (HR Bukhari)
Pagi, 13 April, menjadi salah satu pagi paling gugup dalam hidupnya. Ia bolak-balik menata alat tulisnya. Memastikan pensil telah diraut, rautan pensil telah terbawa, penggaris dalam kotak pensil, papan ujian telah siap, semua terisi dalam tas. Hatinya selalu was-was ketika ujian berlangsung.
Setelah lama berkutat dengan alat tulis ibunya akhirnya memanggilnya untuk sarapan. Dielus kepala anak perempuannya sambil didoakan supaya ujiannya berhasil.
Sepeda motor ayahnya mengantarkannya sedikit terlambat. Atau mungkin tidak terlambat. Tapi tumben sekali rasanya melihat sekolah sudah ramai sepagi ini. Guru-guru berada di luar kelas berjejer tak rapi. Teman-temannya membentuk barisan panjang yang sedikit kacau. Ada yang bolak-balik dari kantin sambil kerepotan membawa alat tulis. Semuanya berwajah Tak tenang atau bahkan terlihat panik. Ia mengernyit merasa telah tertinggal informasi.
Tanpa kata ia melihat kerumunan dan diam. Menunggu suasana cukup kondusif agar bisa bertanya ke seseorang.
"Nak, ayo ke kantin sekarang," seorang guru di belakang mendorongnya masuk ke barisan antrian.
Baru saja hendak berbalik dan bertanya gurunya sudah hilang melipir entah kemana.
"Heh kamu mau ke kantin?!" Seseorang di sampingnya berteriak di samping telinganya.
Dia melonjak kaget tapi cukup senang mengetahui teman dekatnya yang berada di sampingnya.
"Ada apaan sih? Kok belum siap-siap ujian? Aku udah sarapan, kok disuruh ke kantin." Tanyanya.
Yang ditanya melongok ke kanan dan Kiri sebelum mendekatkan mulutnya ke telinga sahabatnya. "Entar bakal dikasih kunci," bisiknya pelan.
Matanya membesar seketika. Jantungnya berdegup kencang. Dipukulnya sahabatnya, "Kunci apaan?," menatap sahabatnya tidak percaya takut dugaannya benar.
"Kunci jawaban lah, apalagi," kawannya menatapnya yang masih diam lalu bergumam, "Yaudah kalo gak percaya,"
Tentu saja ia tidak percaya. Lalu untuk apa belajarnya berbulan-bulan. Untuk apa lembar-lembar soal dipelajari. Untuk apa lelahnya guru-guru ini mengajari. Ia memutuskan menunggu di antrian memastikan hal yang dikatakan sahabatnya tidak benar.
Sayangnya gulungan kertas kecil berisi rangkaian huruf angka yang dibagikan oleh seseorang di kantin menunjukkan sebaliknya. Dugaannya benar. Jantungnya berdegup kencang dan tanpa sadar langkah kakinya berbalik keluar dari barisan. Matanya berkaca-kaca. Kenapa dengan keadaan sekolahnya? Semudah itu membagi kunci jawaban soal setelah semua usaha yang melelahkan, dan bahkan itu dilakukan di hari-H ujian. Ia merasa tidak dihargai usahanya. Dikhianati kepercayaannya pada sekolahnya.
Temannya di samping lantas mengikutinya keluar barisan dan menyusulnya berjalan menuju mushola dekat kantin, "Tuh 'kan! apa kubilang," ujar sahabatnya ketika sampai di mushola.
Mereka duduk berdua. Hatinya masih ketar-ketir menjawab, "terus kamu kenapa gak ngantri sekarang?" Tanyanya akhirnya.
"Aku udah keluar antrian juga tadi, tapi dimarahin, dibilang sama ibu guru, entar gabisa ngerjain." Jawab sahabatnya.
Matanya panas mendengar kenyataan itu, "Kita jujur aja yuk," pintanya akhirnya.
Sahabatnya mengangguk pasti menenangkan ia. Keduanya kemudian beranjak pergi menuju kelas.
Di perjalanan menuju kelas seorang guru tiba-tiba mendatangi ia dan sahabatnya lantas bertanya, "Udah diambil kertasnya?" Jelasnya bertanya mengenai kunci jawaban tersebut.
"Ga ngambil, Bu," kawannya yang menjawab.
Ibu guru menatap ia dan sahabatnya dengan pandangan aneh lalu meninggalkan keduanya.
Ia masih mendengar obrolan guru tersebut dengan rekan guru lain di dekat mereka,
"Si Fulanah dan Fulanah ini sombong banget ya, dikira bisa ngerjain sendiri kali ya, liat aja nanti kalo ujiannya jelek, udah sukur dikasih kertas,"
Ia hanya menghela napas sambil berusaha keras menahan tangis.
Dan itu terjadi esoknya lagi, esoknya lagi, esoknya lagi setiap pagi sebelum ujian berlangsung. Setiap pulang ujian ia hanya akan menangis dan ditenangkan oleh ayah ibunya.
"Yang kamu lakuin udah benar, jangan terbebani," kalimat yang selalu diulang tiap dia memikirkan hal itu lagi.
Ia masih kurang dewasa untuk bersikap teguh pendirian dalam menghadapi situasi seperti ini.
Tapi tidak dipungkiri hatinya takut dengan ketidakberhasilan. Takut jika yang dikatakan gurunya terjadi. Ujiannya jelek dan yang lainnya bagus. Ia merasa menjadi korban ketidakadilan. Selama menunggu pengumuman hasil ujian, sepintas hatinya menyesali sikapnya yang sok jujur. Tapi semua sudah terjadi. Ujian berakhir dan kepercayaan dirinya hancur. Begitupun kepercayaannya terhadap integritas sekolahnya.
Tapi Tuhan tidak mengingkari janjinya. Kelegaan akhirnya menghampiri dirinya.
Kabar baik itu datang ketika pengumuman hasil ujian disampaikan dan ternyata ia mendapatkan nilai ujian tertinggi dari nyaris 300 siswa seangkatannya yang juga ujian. Tidak ada yang menyangka dan tidak ada yang lebih bangga selain orang-orang sekitarnya yang mengetahui kenyataan bahwa yang tertera di sana adalah nilai dari usahanya. Kejadian itu menjadi bentuk pendewasaan dirinya.
Hal-hal tidak jujur akan selalu muncul.
Tapi prinsip dalam mengambil sikap tetap tidak boleh hancur.
Diri ini masih sering khilaf
Tapi percayalah Tuhan masih Maha Pemaaf
Komentar
Posting Komentar