Tali Kekang
Pernikahan. Apa sih yang dipikirin orang-orang ketika denger kata ini?
Yang pasti ketika sudah menikah, seseorang dianggap memasuki tahap baru di hidupnya. Sebuah bentuk keterikatan dengan orang-orang lain yang dianggap pasangan. Idealnya sih, pasangan hidup sekali seumur hidup. Yang bakal berbagi aib, bahagia, uang jajan, kesedihan, hari tua, dan setengah hidup dari pasangan lainnya. Atau paling tidak seseorang yang bisa dimanfaatkan kehadirannya untuk menemani ngobrol di hari tua. Setidaknya itu yang dipikirkan orang-orang kebanyakan(aku sih enggak hoho).
Makanya tanpa sadar pernikahan juga jadi sesuatu yang tertanam sebagai salah satu tujuan hidup kebanyakan orang. Jalan hidupnya orang-orang pasti setidaknya masukkin pernikahan dalam list hidupnya. Bahkan walaupun list pencapaian hidupnya gak tercapai, setidaknya mereka bakal memaksa (dan dipaksa juga) supaya impian mereka yang menikah harus tercapai. Belum lagi posisinya pernikahan sebagai sesuatu yang sakral dan merupakan bentuk ritual ibadah beberapa agama dan membudaya di masyarakat. Makin diagung-agungkan deh prosesi itu.
Iya sih pernikahan penting, tapi karena image-nya pernikahan itu bikin orang-orang kadang jadi mempersiapkan hidupnya juga untuk pernikahan semata. Gak salah sih kalau hidupnya dipersiapkan untuk pernikahan, yang salah itu kalau terlalu kesusu, kemudian ketika diburu waktu dan orangnya belum siap, kondisi sekitar pasti bakal memaksa terus misalnya di sana hidupnya tersiksa dan karena sudah terlanjur jadi gak bisa keluar dari sana, kan kasiaaaaan. Omongan keluarga, tetangga, kerabat, bahkan orang asing turut ikut campur tanpa sadar dengan menekan orang-orang untuk menikah. Padahal pernikahan gak semudah itu. Persiapan gak hanya sekedar materi, mental, calon, dan restu keluarga yang sebenarnya hal-hal itu juga gak mudah dipersiapkan. Ada hal yang lebih besar dan rumit juga di sana. Yaitu tentang kesiapan menerima takdir dengan skenario paling buruk. Sebenarnya skenario terburuk gak cuma muncul ketika menjalani pernikahan sih. Tapi menurutku ketika sesuatu dalam hidupku berlangsung buruk, lebih baik untuk mengandalkan diri sendiri dari pada harus terpaksa mengharapkan orang lain yang posisinya saat itu 'pasangan' untuk ikut menanggung kondisi itu, atau malah bisa jadi pasangan kita itulah skenario terburuk dalam hidup kita. Selain resiko skenario terburuk itu, kita juga bakal menanggung resiko kekecewaan ke orang. Kan sebel(Beda cerita kalau pasangan kita super keren, sevisi, baik hati, cocok di hati, dan bisa diandalkan ya!).
Pernikahan itu kayak acara deal or no deal. Salah pilih malah bisa zonk. Beruntung kalau pasangannya suportif dan sejalan meskipun ya gak ada yang sempurna sih, setidaknya gak jahannam banget lah. Nah, kalo orangnya abusif, materialistis, gak berperasaan, tukang selingkuh, masokis, psikopat atau kelakuan buruk lain yang susah ditolerir kan berabe. Atau kalau dipaksa bertahan malah bikin otak digerogoti frustasi dan depresi terus menderita gimana? Ya gak semuanya kayak begitu sih. Tapi banyaaakkk. Banyak juga sih yang sukses di pernikahan mereka. Makanya pernikahan itu juga soal kesiapan bertahan. Harus siap lahir batin, kuat, mantap, dan ikhlas baru bisa survive. Tapi adalakalanya, orang lain justru baru tahu ketika mereka gak siap ketika pernikahan itu sudah berlangsung. Alhasil, pengadilan agama penuh karena pada banyak yang mau cerai, anak-anak broken home bertebaran, dan manusia-manusia depresi bertambah banyak di bumi. Serba salah deh.
Aku gak bilang kalau pernikahan berdampak buruk. Lagian semua pilihan hidup pasti ada timbangan baik buruknya. Poinnya di sini adalah, pernikahan bagi aku sepenting itu. Persiapannya besar banget. Dan aku gak akan memaksa diriku untuk siap-siap buat pernikahan. Tentu aja aku pengen juga menikah yang bahagia. Tapi aku gak akan menuntut diriku untuk hidup hanya untuk mempersiapkan pernikahan. Cukup wedding organizer aja yang kerjaannya nyiapin pernikahan. Aku sendiri cuma mau fokus buat beribadah dan bahagia dan bagi aku beribadah dan berbahagia gak selalu dari pernikahan.
Dalihnya orang sih ntar kalo gak menikah hidupnya sendirian di masa tua, gak ada yang ngurusin, gak ada anak yang doain, pasangan ngobrol gak ada, dsb. Padahal banyak juga kok sekarang orang hidup gak berpasangan, independen, berbahagia, dan tetap taat sama perintah agama di sisa akhir hidupnya (selain yang nikah). Dan aku gak masalah semisal harus hidup di panti jompo, hanya punya anak angkat, teman hidupnya cuma sesama orang yang gak menikah juga. Sebenarnya ini seperti memilih juga kan. Dari pada gak bahagia dengan pernikahan yang kayak neraka, lebih baik aku bahagia dengan pertemanan yang sederhana. Dari pada tersiksa dalam pernikahan dan perlakuan jelek pasangan, aku lebih baik tersiksa dalam kesendirian(yang sebenarnya masih bisa diakali). Menurutku gak menikah belum tentu orangnya egois. Bisa aja dia memilih untuk membahagiakan orang lain, mendedikasikan hidupnya, membagi bagian dari hidupnya untuk orang lain juga. Dan kebetulan orang yang dipilihnya bukan seorang pasangan seperti suami/istri. Banyak jalan menuju Roma.
Jadi kalau ada seorang calon yang gak bisa aku terima jeleknya, meskipun aku diburu umur, aku gak akan mau mempertaruhkan bahagiaku ke dia, atau ketika calon ada yang cocok, restu sudah di tangan, materi sudah ada, kalau mentalku masih belum siap, aku gak akan pernah mulai tahap itu. Ya apapun skenarionya, selama masih belum mendekati kondisi ideal, aku gak akan mempertaruhkan kebahagiaanku seberapa memaksapun keadaannya. Setidaknya sih yang terpenting punya pasangan yang cocok dan sevisi dulu, dan nyarinya pun seperti nyari jarum dalam jerami satu bumi.
Tentu aja semua gak akan seideal bayanganku. Setidaknya aku berusaha meminimalisir resiko. Yang pasti aku gak mau terlalu terbebani dengan pikiran pernikahan sampai siap segalanya. Kalau sampai akhir gak siap, ya bagi aku gak masalah untuk gak menikah. Lagian dalam Islam sendiri hukum menikah macam-macam. Baru berlaku wajib kalau sudah siap juga. Kalau mentalnya belum siap, pernikahan jadi tali kekang yang jahat buat orang itu. Sedih juga sih di Islam wanita gak dikasih consent soal pernikahan :( tapi yaudah lah ya. Sekarang kan bukan zaman Siti Nurbaya. Masih ada harapan buat menentukan pilihan (yang baik tentunya) dan berbahagia dengan pilihan kita.
Orang pasti bakal mikir, apa sih, Qolbu aneh, liberal, dosa, gak melaksanakan perintah agama, sok independen, dll. Hadeh. Ini kan pendapat. Dari pada ngomong begitu, kenapa gak nyoba kasih pandangan yang berbeda aja? Siapa tahu aku berubah pikiran kan :)
Tuhan juga pasti punya alasan kenapa aku berpikir begini. Di sisi lain aku juga berdoa untuk selalu diberikan petunjuk dan kebenaran di setiap apapun yang ada di kehidupan.
Komentar
Posting Komentar