Yogyakarta and The Memories (2019)
Yogyakarta. 22 Desember 2019 pukul 9 malam. dijemput oleh segerombolan sekawanan SMA. Aku akan sangat ingat betapa rasa pertama yang muncul adalah kilasan kenangan dan rindu.
Perjalanan kembali dilewati dengan bicara tanpa henti di belakang Fyu. Aku memang tak puas berbicara. Terutama kepada mereka yang kusimpan rindu. Curhatan malam itu di Bento Kopi juga membawa lega. Tidak Ada untungnya mereka tahu ceritaku, atau aku tahu cerita mereka. Hanya saja menyenangkan sekali berkabar pada mereka. Aku tidak percaya menceritakan sesuatu yang dulu terasa berat akan begitu mudahnya terucap di depan mereka. Padahal kita tak pernah punya kesempatan bicara dahulu ketika masih berada di jalur pelayaran yang sama. Waktu bahkan bergulir begitu cepat hingga besok menjadi kemarin. Akrab sekali.
Heha Sky View, Gunungkidul. Payung kecil warna-warni menyambut kami ramah. Aku masih merasakan kecanggungan. Suasana akrab malam itu hilang tinggal remah kecanggungan.
Tiket masuk, makanan, foto. Biayanya mahal karena yang didapatkan hanya kecanggungan dan keramaian yang sunyi. Terlalu buru-buru dan ditekan oleh perasaan tidak enakan. Pun kami kembali dengan hati tak tenang karena mengejar sesuatu yang sebenarnya tak bisa dibandingkan dengan kebersamaan. Tapi sungguh, aku hanya tak ingin egois.
Selalu ada waktu ketika aku merasa sendiri dalam keramaian. Begitupun orang lain. Aku hanya ingin percaya tiap manusia itu sama sifatnya. Komposisinya saja yang berbeda.
Yogyakarta. Uki, Malik, Fikram, Luppi, Hendri, Aji, Amir, Ikay, Fyu, Aka, Kur, Zufar, Aripeh. Aku bertemu dengan mereka. Menjadi pendengar setia sekaligus pengganggu yang tak peka.
Aku masih menerka apa pendapat mereka tentangku. Menyebalkan, pelupa, mudah ditipu, tersesat, hilang, baper. Aku semakin tak kenal diriku sendiri. Setidaknya tidak sepaham mereka tentang diriku.
Aku benci menjadi orang luar. Tapi itulah aku bagi siapapun. Bagi mereka yang dekat. Bagi mereka yang jauh. Bagi diriku sendiri. Susah sekali beradaptasi. Sedang menerka-nerka kenapa tidak semudah orang lain di luar sana. Orang-orang seperti mereka kadang membunuh kepercayaan diriku dengan menumbuhkan kenyamanan.
Kurasa akan menyenangkan jika aku mudah beradaptasi dan membaur dengan lingkungan sekitar. Semakin diinginkan semakin aku merasa berbeda sendirian. Namun dalam pikiranku tak henti percaya bahwa kita semua sama.
Yogyakarta. Parangtritis. Aku jarang merasa damai. Tapi melihat hamparan ombak di bibir pantai membawa kedamaian itu padaku. Rasa ingin menyatu dengan laut membuncah saat itu. Tapi aku masih tetap diam menahan diri melihat manusia-manusia jenaka itu tertawa. Di masa-masa itu rasanya ingin menghentikan waktu sendiri dan menjadi pemilik pantai dalam sehari.
Yogyakarta. Rumah Safradiza. Pukul 23.25 tanggal 31 Desember. Acara tahun baru tersunyi yang pernah aku alami. Alunan musik khas ikhwan safradiza, ikan bakar, sambal dabu-dabu, Dan kertas semi-organik yang ikonik. Aku berjalan sejauh ini hanya untuk melanggar aturan tak tertulis yang kubuat sendiri.
Aku rindu. Rindu sekali suara letup kembang api di langit. Atau omelan Umi agar aku segera tidur. Dulu aku sebal sekali suaranya mengganggu tidurku sebelum aku keluar dari rumah dan terpana sendirian. Aku rindu masa itu. Ketika menyambut tahun berganti menjadi sebuah memori yang terukir abadi. Tahun lalu aku terlalu sendiri hingga lupa apa yang terjadi di malam seperti hari ini.
Menuju penghujung tahun 2019 hariku kembali. Bersama mereka di Yogyakarta, ujung tahunku bermakna. Tapi apa tak bersyukurkah jika aku tetap bertanya-tanya, mengapa aku tetap kesepian.
Aku rindu merasa nyaman di hari ini. Atau hari-hari seperti ini. Tangis pun tak bisa keluar, dengan bawang dan segala sesuatu yang aku kenang. Aku ingin menangis menyadarkan diri ini sejenak bahwa aku tak sendirian.
Sedetik setelah menulis ini titik air mata membawa tanganku mengusap wajah, lupa kalau capcaisin cabai masih menetap tidak tersingkir oleh sabun sunlight.
Mataku mengerjap beberapa kali sebelum sadar perihnya menjalar ke nyaris setengah wajah. Sebalnya ia tak sopan masuk ke dalam mata. Tangisnya makin deras dan aku menjadi takut buta. Masih kutahan suara senggukan dan segala umpatan dalam hati. Dengan derai air mata menunggu mereka yang masih beli nasi.
Aku tidak pernah suka bersuara ketika menangis, tapi ini sungguh berbeda. Ingin kuhilangkan saja mataku saat itu agar tidak merasakan perih pedas cabai itu.
Suara yang kutunggu datang pula akhirnya. Tidak pernah aku merasa sangat ingin menangis seperti saat itu. Dipanggilnya mereka dari dalam rumah. Sudah terlambat untuk mencegah mereka mengetahui kebodohanku. Suara tawa, canda, dan kekhawatiran bercampur masuk ke telingaku tumpang tindih. Kepanikan semakin membuncah tapi rasa tidak enak juga ikut datang.
Lama sekali perih itu pulih. Aku mencuci tangan dengan sabun lagi. Tanganku terasa sedikit perih karena digosok terlalu keras. Air mata tak henti mengalir dan nafasku tertahan pendek-pendek. Aku tidak peduli bagaimana mereka melihatku saat itu, yang pasti aku benci merasa cengeng. Meskipun tangisnya hanya refleks mataku terhadap capcaisin.
Rindu dan nafsu makanku sudah menguap entah kemana. Lontaran candaan masih saja terdengar. Aku tidak tau kenapa dengan rasa perih itu aku masih bisa tertawa. Tapi entah kenapa tawa mereka meredakan kepanikanku sedikit. Aku bingung kenapa aku tidak bisa mengandalkan mereka saat itu. Padahal semudah itu mereka membuatku merasa tidak asing dan gundah ketika cabai menusuk mataku.
Kurasa aku merusak perayaan tahun baru kita. Aku menangis dengan alasan tak lazim. Aku benci kau capcaisin.
Demikian tentang cerita Yogyakarta. Ingin kesana lagi dan melanjutkan ceritanya dengan mereka.
Komentar
Posting Komentar