Sosial Media dan Validasi Manusia

Dulu aku suka banget bacot gak jelas dan posting apa aja di sosmed kayak Twitter, Instagram, dan lain-lain. Setelah itu, sekian waktu tanpa sosmed, tiba-tiba dapat wangsit buat tulisan ini. Ganti perspektif baru emang kayak buka lembar baru. Sekarang udah gak lagi memandang sosial media sebagai wadah pengguna buat nunjukkin eksistensinya. Ini berlaku untuk akun-akun individu ya, bukan akun jualan yang butuh sosmed sebagai strategi marketingnya atau para aktivis buat menyebarkan ideologi mereka. Berlaku buat manusia yang menggunakan akun sosial media pribadinya buat aktualisasi diri dengan validasi dari pengguna sosmed lainnya kayak yang dulu aku lakuin.

Di posisi ketika aku merasa sosmed cuma aksesori semata, gak ada aku mikir ribet penting engganya sosmed di kehidupan kita. Upload ya upload aja, ada yang komen baik ya seneng, kalo buruk ya sedih. Kadang jadi mood wrecker tapi ya lakonin aja hidup ala pengguna sosmed. Sekarang kan sosmed udah kayak kebutuhan individu miskin validasi juga kayak kita kebanyakan ini. Tapi eh tapi sekarang tiba-tiba malah jadi keberatan dengan itu semua dan berbalik bilang kalau validasi orang sekitar tentang kehidupan kita itu tidak terlalu penting dan bisa jadi malah bawa dampak toksik dan adiksi buat pengguna.

Kita punya kehidupan pribadi yang eksklusif. Tapi begitu masuk ranah sosial media, semua orang jadi bisa dapat akses pengetahuan tentang diri kita. Apa yang kita pikir, kita makan, kita datangi, dan lain-lain tentang kita jadi sesuatu yang mudah banget diketahui orang lain. Terus tujuan semua itu apa? Tentu aja buat validasi diri. Balasan dan tanggapan dari orang lain itu dopamine-booster banget. Kita ngerasa butuh eksis di lingkungan sosial. Padahal sebenarnya ya eksis di sosmed gak perlu-perlu banget. Mereka gak akan sepeduli kita tentang kehidupan kita. Mau dapat tanggapan baik atau buruk cuma kayak angin lalu bagi netizen. 

Kita yang gak pernah mikirin orang lain lebih dari kita mikirin diri kita sendiri, orang lain juga sama. Jadi validitas dari sosmed nyaris gak ada gunanya. Kecuali kalau memang udah terlanjur kecanduan. Ya mau gimana. Kamu selalu butuh sesuatu yang udah terlanjur jadi kebiasaan, meskipun nyatanya ya gak butuh-butuh amat sih. Tapi otaknya udah terlanjur kebiasaan sama banjir hormon bahagia yang berlebihan. Pemicunya kebetulan yang sering dilakuin ya dari interaksi sosial media. 

Tapi sekarang berasa banget. Ketika berusaha menahan diri untuk gak nge-share seperti biasanya di sosmed, jadinya nge-share kayak barang mewah yang dulu pernah dipunya tapi kebetulan dianggap pembawa pengaruh buruk jadinya  ditinggalkan sebentar. Dopamine detoxification. Tapi rindu juga saat-saat masih bisa nge-share tanpa mikirin hal kayak gini. Di sisi lain ada dorongan buat posting, sisi lainnya udah enggan buat exposure lagi kehidupan pribadi. Kalau nge-share yang penting ya gak papa lah ya. 'Kan bisa jadi orang lain butuh. Kalo kehidupan pribadi jelas banget 'kan gak pentingnya bagi orang lain. Ribet emang kalo dipikir. 

Sama juga halnya dengan keinginan pengen nge-share cerita ini ke sosial media. Rasanya pengen tahu, abis baca ini ada yang relate gak ya, atau mungkin kontra. Masih ada efek maju-mundur buat nge-share karena was-was sama pandangan orang lain, padahal belum tentu juga diperhatiin, tapi penasaran juga. Aduh maunya apa.

Jadinya juga gara-gara sekarang ngasih batasan soal posting sesuatu di sosial media, tulisan di notes yang gak terjamah siapa-siapa jadi banyak. Begini lebih baik juga sih.

Menulis untuk menumpahkan perasaan sebenarnya tanpa melulu memikirkan apa yang nanti orang lain pikirin tentang tulisanku, tentang perasaanku, tentang kegiatanku, tentang aku. Emang ya, betapa nyatanya adiksi sosial media sampai aku sebenarnya kangen juga, menulis untuk mendapatkan komentar. Aku jadi merasa opini semakin kita dewasa semakin kita merasa tertutup itu benar adanya. Setidaknya berlaku untuk aku juga. Walaupun gak dipungkiri aku juga suka mikirin, gimana kalau tulisan ini dibaca orang lain, siapa ya kira-kira orangnya? Gimana ya pendapatnya tentang aku? 

Aku gak bilang selamanya gak akan menggunakan sosial media, sih. Untuk sekarang, interaksi sosial media kayaknya akan terus diperlukan. Di masa depan juga pasti masih akan perlu. Mungkin aku cuma akan lebih consider untuk memposting hal-hal perlu. Gak lagi tentang keseharian aku, apa yang aku lakukan, dan hari-hariku. Senang, capek, tawa, dan dukanya hari-hariku cukup untuk aku dan orang sekitar aku aja yang terlibat. Instagramnya buat promosi yang lebih butuh aja atau sekedar ngasih tanda aku masih ada dan hidup di luar sana. 'Kan sosial media lumayan banget kalau buat promosi-promosi sesuatu. Kalau mau nulis di blog aja. Soalnya yang klik link blogku pasti orang yang penasaran, ingin tahu lebih tentang aku, dan mungkin juga perlu mendapatkan informasi tentang aku. Sudah bisa dipastikan kamu mengeluarkan effort lebih untuk sampai di paragraf ini. 

Untuk itulah blog ini dibuat. Walaupun sosial media di batasi, tapi aku gak akan berusaha terlalu menutup diri.

Hai, untuk kamu yang sedang membaca. Have a nice day!




Komentar

Populer

echoes of warmth

Drama Mahasiswi Tua

Puisi #1: Dalam Ruang Paradoks