Cerita Tidak Menyenangkan
Sore jam 3 mata kuliah SIK. Kelas kondusif dengan orang-orang yang memerhatikan dengan baik materi ajar Pak V untuk mata kuliah yang paling banyak diulang mahasiswa.
Suasana cukup tenang sampai ketika di akhir kelas Pak V mengabarkan bahwa esok hari ada seminar mengenai mata kuliah yang diajarkan tadi.
Beberapa orang menginformasikan Pak V bahwa jadwal tersebut bentrok dengan ospek jurusan yang disebut MPAB. Diselenggarakan oleh mahasiswa tingkat 3 ke atas sebagai panitia. Kami kemudian mengurungkan diri untuk mengikuti seminar. Aku juga awalnya tidak tertarik mengenai seminar tersebut namun teriakan-teriakan mahasiswa kelas K-02 memaksa Pak V untuk mewajibkan seluruh kelas datang seminar. Aku tetap ragu.
Sampai akhirnya Pak V dengan yakin mengatakan bahwa Rafi si ketua penyelenggara MPAB tersebut adalah mahasiswa bimbingannya yang juga akan hadir pada acara tersebut. Beliau mengatakan akan segera menegosiasikannya dengan Rafi agar kami semua boleh mangkir dari interaksi ospek jurusan tersebut dan Rafi sebagai ketua kegiatan tersebut menyutujuinya.
Kami belum keputusannya saat itu. Tapi hatiku tenang saat tau kami diberi izin mangkir. Pak V segera menyebarkan link pendaftaran untuk kami dan saat itu juga diakses oleh beberapa mahasiswa termasuk aku.
Permasalahan itu datang ketika diskusi forum angkatan mengenai jadwal yang bentrok tersebut. Orang-orang mulai membicarakan tentang kelas genap yang tidak bisa datang ospek jurusan karena seminar wajib dari Pak V tanpa tahu bahwa yang menjadikan itu wajib adalah kelas genap itu sendiri dan bukan semata karena Pak V ingin.
Mereka mulai membicarakan soal solusi jadwal bentrok ini. Kami masih belum mengetahui mengenai setuju tidaknya MPAB terkait setengah kelas yang harus mangkir dari osjur, artinya mencakup setengah angkatan yang tidak dapat hadir. Kuota seminar hanya 100 orang sedangkan itu merupakan kuliah umum yang diikuti oleh banyak institusi, sehingga tidak mungkin seluruh angkatan kimia dapat mendaftar. Kami masih mencari solusi. Aku memberi Saran tentang waktu MPAB yang bisa dinegosiasikan dengan himpunan agar bisa diundur karena waktu seminar yang hanya setengah hari beririsan dengan osjur Kimia yang bisa seharian penuh. Atau kelas genap yang wajib ikut bisa menyusul kemudian.
Sampai pada pertanyaan mengenai siapa saja yang sudah mendaftar. Disuruh angkat tangan dan ternyata hanya 8 orang yang sudah mendaftar. Ternyata salah satunya adalah aku. Mereka mulai menyudutkan kami. Intinya mengatakan bahwa karena kami sedikit, ya sudahi saja, semua tidak usah datang seminar.
Hatiku merasa tidak nyaman dituntut melakukan pembatalan sepihak tanpa mempertimbangkan pihak penyelenggara seminar dan Pak V. Terbentuk dua kubu. Yang memilih MPAB dan memilih seminar akademik.
Tentu kalau aku belum mendaftar seminar, aku lebih memilih mengikuti osjur MPAB. Tapi di posisiku yang sudah terlanjur mendaftar akibat tugas yang mendadak wajib itu tentu rasanya tidak etis membatalkan begitu saja. Maka aku berpendapat lagi.
Seorang dari mereka mempertanyakan niat kami mengikuti seminar untuk menghindari MPAB atau memang ingin ikut. Aku paham, mungkin karena dia tidak berada di kelasku, dia tidak paham dengan kondisi kelas yang saat itu benar-benar nyaring memaksa Pak V mewajibkan seminar itu.
Aku sendiri mengisi link pendaftaran bukan tanpa berpikir. Tapi Pak V sudah mengatakan akan menegosiasikannya dengan ketuanya langsung dan anak bimbingannya pula. Aku juga mempertimbangkan bahwa akademik adalah nomor 1 bagi prioritas orang-orang. Atau mungkin beberapa orang. Bukan karena aku egois atau gila belajar sampai mengesampingkan osjur.
Pak V kemudian segera memberi pesan yang menyiratkan persetujuan MPAB untuk mahasiswa kelas genap yang ikut seminar dengan memberi tugas wajib bagi Pak V dan juga MPAB. Hanya bicara memaparkan Hal yang sebenarnya terjadi. Bukan dalih ingin memaksakan diri mangkir dari osjur.
Aku hanya mulai belajar berbicara mengenai pendapatku, posisiku, di masalah itu. Seperti trauma rasanya. Di Hari pertama aku belajar berhimpun, mereka tidak melihat pendapatku sebagai referensi keputusan, tapi sebagai kerikil penghalang.
Aku tidak melihat tatapan mereka sampai aku diberi tahu langsung bahwa mereka benar-benar tidak menginginkan aku berada disana dan berpendapat. Yang mereka lihat sebagai sesuatu yang tidak solid adalah aku yang hanya berbicara posisiku.
Aku sedih. Orang-orang mulai menatapku berbeda. Dan di tempat aku berada hingga lulus nanti, aku tidak disukai.
Komentar
Posting Komentar